Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Matsnawi 3 Raja Berpaling Kepada Tuhan

Terjemahan matsnawi 3
Sebelumnya: 1. Mukaddimah
                       2. Raja mencintai hamba sahaya

Raja Berpaling Kepada Tuhan

Manakala tahu para tabib tidak dapat menyembuhkan gadis itu, maka segeralah baginda lari bertelanjang kaki menuju masjid.

Begitu masuk ke dalam masjid, baginda langsung menuju mihrab untuk salat: sajadah permadani di depannya segera basah digenangi air matanya.

Karena khusyuk, baginda karam dalam wajd, lalu membuka bibir dan memanjatkan doa dan pujian-pujian yang indah.

“O, Kau yang anugrah-Mu paling sedikit adalah kerajaan dunia, apakah yang harus kuucapkan, karena kaulah yang Maha Mengetahui segala perkara yang tersembunyi?

Kaulah tempat kami memilih perlindungan sesuai keperluan kami, sekali lagi kami telah sesat jalan.

Tetapi engkau berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui rahasiamu dan perbuatan lahirmu memberi pertanda.”

Tatkala raja memohon dengan menarik suara yang kuat dari lubuk hatinya, laut kemurahan pun mengangkat naik gelombangnya.

Setelah menangis matanya mengantuk. Dalam tidurnya raja bermimpi ada seorang lelaki tua datang menghampirinya,

Dan berkata, “Kabar baik wahai raja! Permohonanmu dikabulkan. Apabila besok ada orang asing menemui Anda, orang itulah utusanku.

Dia seorang tabib yang ulung, sambutlah ia dengan tulus karena dia adalah orang yang amat terpercaya dan benar.

Dalam obatnya akan kau lihat keajaiban yang sebenarnya, dalam tabiatnya akan kau lihat bukti kebesaran Tuhan.”

Tatkala jam yang dijanjikan tiba dan pagi mulai merekah serta matahati terbit dari ufuk timur membakar bintang-bintang,

Raja pun bersiap di atas menara, menunggu untuk menyaksikan peristiwa ajaib yang disaksikan dalam mimpinya.

Maka tampaklah kini lelaki yang sangat piawai dan terhormat sedang berjalan, sebuah matahari terbit diantara kumpulan awan hitam.

Orang itu datang dari jauh, bagaikan bulan yang baru muncul, ramping dan berkilauan: ia tidak wujud, wujudnya khayali semata.

Dalam rohnya tak ada khayalan, namun lihat! Betapa kemudian alam tiba-tiba berubah menjadi khayalan.

Damai dan perang berubah menjadi khayalan, kebanggaan dan rasa malu terbit dari khayalan.

Namun, semua khayalan yang menjerat para aulia ialah bayangan seorang molek yang berasal dari Taman Ilahi.

Pada wajah tamu asing itu, nampaklah khayalan yang disaksikan raja dalam mimpinya.

Dengan mendahului pembesar lain, raja tampil ke depan untuk menyambut tamunya yang datang dari Yang gaib.

Mereka berdua ialah pelaut yang mahir berenang, jiwa mereka ialah kain tenunan yang tidak dijahit.

Raja berkata, “Kau ialah kekasihku. Dia bukan kekasihku, tetapi di dunia ini perbuatan berasal dari perbuatan juga.

O, kau yang bagiku bagaikan Mustafa, sedangkan aku ialah Umarnya, akan kuikat pinggangku untuk melayanimu.”


Sabtu, 05 November 2011

Terjemahan matsnawi1 Mukaddimah

MUKADDIMAH

Dengar lagu seruling bambo menyampaikan kisah pilu perpisahan. Tuturnya “Sejak aku berpisah dengan asal usulku, pokok bambo yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengadu.


Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai. Dengan demikian, dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.

Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.

Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap mejelis pertemuan, aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.

Rahasia laguku tidak jauh dari asal usul ratapku. Namun, apakah ada telinga yang mendengar dan mata melihat?

Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh. Namun, tak seorang diperbolehkan melihat roh.

Bunyi seruling yang riuh ialah kobaran api, bukan desir angin yang berhembus: mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia hidupnya.

Inilah api Cinta yang tersembunyi dalam seruling bambo, inilah bara semangat Cinta yang dikandung anggur.

Seruling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabat karibnya: lagunya menyayat kalbu.

Siapa pernah melihat racun dan penawarnya sekaligus seperti seruling? Siapakah pernah menyaksikan orang berkabung dan pecinta menuturkan rindu dendamnya seperti seruling?

Seruling menyanyikan kisah jalan tergenang darah dan mnyingkap lagi rindu dendam Majenun.

Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan: Lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.

Dalam pilu hari-hari hayat kami berlalu tak kenal waktu: hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara.

Kalua hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi! Kami tidak peduli. Kekallah Kau, sebab tiada sekudus Kau.

Mereka yang tidak puas pada air-Nya bukanlah ikan: mereka yang tidak punya roti utuk makanan sehari-hari akan merasakan betapa lamanya detik-detik waktu berjalan.

Tidak ada barang mentah yang mengerti arti kemasakan. Karena itu, kini akan kuringkas kata-kataku! Selamat tinggal!

Anakku, patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu! Berapa lama kau akan terikat pada perak dan emas?

Apabila air laut kau tuang ke dalam kendi, berapa teguk yang dapat ditampung? Paling-paling cukup untuk minuman sehari.

Kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, tak akan pernah penuh:Ingatlah, kerang tidak akan berisi mutiara sebelum dirinya penuh.

Dia yang meminjam jubahnya dengan rasa cinta akan bersih dari ketamakan dan kekurangan.

Selamat datang, o, Cinta yang memberi keberuntungan indah. Kaulah tabib segala sakit kami, pemulih keangkuhan dan kesombongan, Filosof dan Dokter kami!

Dengan Cinta, tubuh tanah liat ini dapat terbang ke angkasa  raya, mikraj: gunung menari dan tangkas geraknya.

Cinta menurunkan ilham kepada Gunung Sinai, o Pecinta, karena itu Gunung Sinai mabuk dan ‘Musa jatuh pingsan’.

Apabila aku mengikuti bibir yang sehaluan denganku, aku akan seperti seruling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan.

Tetapi, dia yang dipisahkan darinya akan membisu, walaupun tahu ratusan syait dan gurindam.

Apabila mawar pergi dan taman lenyap, kisah burung bulbul tak akan lagi terdengar olehmu. Kekasih ialah segala-galanya, dan pecinta ialah tabirnya.

Kekasih ialah hidup dan pecinta itu benda mati. Kalau cinta tak memedulikannya, jadilah ia burung tanpa sayap.

Cinta ingin dunia ini dijelmakan: Jika cermin tak memantulkan bayangan, apa sebabnya?

Tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan satu pun bayangan? Karena karatnya tidak dibersihkan.

O, Sahabat, dengar kisah ini: hanya dalam Kebenaran sumsum keperiadaan roh kami terkandung”


Disadur dari kitab Matsnawi Senandung Cinta Abadi karya Jalaluddin Rumi

Diterjemahkan oleh: Abdul Hadi W.M.